Di Balik Tragedi Mudik: Kisah Makbulah dan Realitas Perjalanan yang Terlupakan
Tragedi Makbulah, pemudik Cianjur yang meninggal di pinggir jalan Cileungsi, bukan sekadar berita. Ini cermin dari risiko perjalanan mudik yang sering diabaikan.

Pernahkah Anda membayangkan, di tengah euforia mudik yang selalu digambarkan penuh tawa dan pelukan keluarga, ada kisah-kisah lain yang jauh dari sorotan kamera? Kisah tentang perjuangan sunyi, tubuh yang lelah, dan risiko kesehatan yang mengintai di setiap kilometer perjalanan. Tragedi yang menimpa Makbulah, seorang pemudik asal Cianjur, bukanlah insiden pertama dan sayangnya, mungkin bukan yang terakhir. Ia ditemukan tak bernyawa di pinggir Jalan Raya Cibubur-Cileungsi, Kabupaten Bogor, pada Selasa pagi (17/3/2026), mengingatkan kita semua bahwa di balik tradisi pulang kampung yang sakral, tersimpan kerentanan yang sering kali kita anggap remeh.
Detik-Detik Penemuan yang Mengharukan
Sekitar pukul 04.30 WIB, suasana masih sepi di Kampung Kaum Tengah, Desa Cileungsi. Seorang warga bernama Uum baru saja usai menunaikan salat subuh di Masjid Al-Manshurunal Muqorrobun. Dalam perjalanan pulang, matanya menangkap sosok yang tergeletak di tepi jalan, dikelilingi tumpukan barang bawaan. Awalnya, seperti kebanyakan orang, Uum mengira itu hanya pemudik yang kelelahan dan memilih beristirahat sejenak. Namun, ada sesuatu yang tak biasa—sosok itu sama sekali tidak bergerak dalam waktu yang cukup lama. Rasa ingin tahu bercampur kecemasan mendorong Uum untuk melaporkannya kepada Ketua RT setempat. Sayangnya, tidak ada seorang pun yang berani mendekat dan membangunkannya secara langsung, sebuah refleksi alami akan ketakutan dan ketidakpastian menghadapi situasi yang tidak biasa. Akhirnya, laporan pun disampaikan ke Polsek Cileungsi.
Proses Identifikasi dan Temuan di TKP
Setelah petugas kepolisian tiba, pemeriksaan awal segera dilakukan. Kapolsek Cileungsi, Kompol Edison, mengonfirmasi bahwa pria tersebut telah meninggal dunia. Korban dikenali sebagai Makbulah, warga Kecamatan Kadupandak, Cianjur. Saat ditemukan, ia mengenakan jaket ungu dan celana panjang hitam. Yang menarik perhatian adalah barang-barang di sekitarnya yang masih utuh dan teratur: sebuah tas besar berwarna biru penuh pakaian, dua kardus, serta tas selempang berisi ponsel dan dua dompet. Dompet itu masih menyimpan identitas dan sejumlah uang tunai dalam berbagai pecahan. "Berdasarkan pemeriksaan di Tempat Kejadian Perkara, tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Indikasi sementara adalah meninggal karena sakit yang diderita selama perjalanan," jelas Kompol Edison. Jasad kemudian dievakuasi ke RS Polri untuk autopsi lebih lanjut, sementara pihak kepolisian berusaha menghubungi keluarga di Cianjur.
Melihat Lebih Dalam: Data dan Realitas Kesehatan Pemudik
Insiden ini membuka diskusi yang lebih luas. Menurut data dari Kementerian Kesehatan yang dirilis jelang musim mudik tahun sebelumnya, terdapat peningkatan signifikan kasus gangguan kesehatan selama perjalanan mudik, terutama yang berkaitan dengan kelelahan akut dan penyakit kronis yang tidak terkelola dengan baik. Banyak pemudik, terutama dari kalangan pekerja dengan pendapatan menengah ke bawah, cenderung memaksakan diri untuk pulang meski kondisi fisik tidak optimal. Mereka sering mengabaikan gejala sakit, menganggapnya sebagai hal biasa yang akan hilang dengan sendirinya. Faktor ekonomi juga berperan—biaya perjalanan yang sudah dikeluarkan membuat mereka enggan membatalkan atau menunda mudik meski tubuh memberikan sinyal bahaya. Ini menciptakan sebuah paradoks: keinginan kuat untuk bersatu dengan keluarga justru berpotensi memutus perjalanan hidup mereka sendiri di tengah jalan.
Opini: Di Mana Titik Lemah Sistem Kita?
Sebagai penulis yang sering mengamati dinamika sosial, saya melihat tragedi Makbulah bukan semata-mata nasib buruk individu. Ini adalah cermin dari beberapa titik lemah dalam sistem kita. Pertama, kurangnya kesadaran akan pemeriksaan kesehatan pra-perjalanan yang terjangkau dan mudah diakses, khususnya bagi calon pemudik dengan riwayat penyakit. Kedua, infrastruktur darurat di jalur mudik yang masih terbatas. Meski ada posko kesehatan, cakupan dan responsnya sering kali tidak optimal untuk menangani kasus-kasus kritis yang terjadi di lokasi terpencil atau di luar jam operasional. Ketiga, ada budaya 'pemaksaan' mudik yang kadang mengabaikan keselamatan. Tradisi ini begitu kuat sehingga kondisi kesehatan sering dikalahkan oleh tekanan sosial untuk pulang kampung. Kita perlu mempertanyakan: Sudahkah kita menciptakan ekosistem mudik yang benar-benar aman dan manusiawi?
Refleksi Akhir: Belajar dari Sebuah Nama
Makbulah mungkin hanya satu nama dalam statistik, tetapi kisahnya menyimpan pelajaran berharga bagi kita semua. Di balik setiap angka dan berita singkat, ada cerita tentang seseorang yang punya harapan, rencana bertemu keluarga, dan bekal yang disiapkan dengan hati. Kematiannya di pinggir jalan, jauh dari rumah yang dituju, adalah pengingat pilu tentang betapa rapuhnya manusia dalam perjalanan. Sebagai masyarakat, kita bisa mulai dari hal kecil: lebih peka terhadap orang di sekitar kita selama perjalanan, tidak ragu menawarkan bantuan atau melaporkan hal yang mencurigakan, seperti yang dilakukan warga Cileungsi. Pemerintah dan stakeholder terkait juga perlu mengevaluasi dan memperkuat sistem penanganan kesehatan darurat di jalur mudik, mungkin dengan teknologi atau patroli yang lebih responsif.
Pada akhirnya, mudik seharusnya tentang kebahagiaan reunifikasi, bukan tentang pengorbanan nyawa. Mari kita jadikan kisah Makbulah sebagai momentum untuk lebih peduli—baik pada kesehatan diri sendiri sebelum berangkat, maupun pada sesama di perjalanan. Karena di jalan raya yang sama yang kita lalui, bisa saja ada seseorang yang sedang berjuang antara hidup dan mati, menunggu uluran tangan yang mungkin datang terlambat. Sudah siapkah kita menjadi masyarakat yang tidak hanya ramai di euphoria, tetapi juga sigap dalam empati?