Ketika Bank Jakarta Pesta Mewah, Laba Justru Tersungkur: Sebuah Paradoks yang Menggelitik
Anggota DPRD DKI, Justin Adrian, menyoroti ironi Bank Jakarta yang menggelar acara mewah di tengah penurunan laba drastis dan gangguan layanan. Simak analisisnya di sini!

Pesta Mewah di Tengah Laba yang Merosot: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Pernahkah Anda membayangkan seseorang yang sedang terlilit utang malah mengadakan pesta besar-besaran? Kedengarannya tidak masuk akal, bukan? Namun, itulah yang baru-baru ini dilakukan oleh Bank Jakarta, sebuah bank milik pemerintah daerah yang seharusnya menjadi tulang punggung perekonomian warga ibu kota. Di tengah laporan keuangan yang memperlihatkan penurunan laba yang fantastis, Bank Jakarta justru menggelar acara Employee Gathering 2026 yang spektakuler di Jakarta International Convention Center (JICC).
Bukan cuma sekadar kumpul-kumpul biasa, acara ini mengundang artis-artis papan atas seperti Sheila On 7 hingga Wika Salim. Bayangkan biaya yang harus dikeluarkan untuk sewa venue megah dan honor para bintang tersebut. Di saat yang sama, laba bersih Bank Jakarta terus menukik tajam dari Rp1,02 triliun pada 2023 menjadi hanya Rp330 miliar pada 2025. Sebuah ironi yang sulit dicerna oleh akal sehat.
Menyoroti Kinerja Keuangan yang Memprihatinkan
Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, Justin Adrian Untayana, menjadi salah satu yang paling vokal mengkritik langkah kontroversial ini. Ia mendasari kritiknya pada data Laporan Keuangan Tahunan Bank Jakarta yang menunjukkan tren negatif yang sangat jelas. "Dari laporan keuangan tahunannya saja, bisa dilihat kalau labanya itu menurun. Pada tahun 2023, Bank Jakarta memang meraup laba bersih sebesar Rp1,02 triliun. Tapi, di tahun berikutnya angka tersebut drop jauh ke Rp779 miliar, dan di 2025 turun lagi ke Rp330 miliar," ungkapnya dengan nada heran.
Justin pun mempertanyakan secara terbuka, "Lalu, apa yang perlu diselebrasikan?" Pertanyaan ini sebenarnya bukan sekadar kritik, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang prioritas dan manajemen perusahaan. Di dunia bisnis, ketika kinerja sedang terpuruk, lazimnya perusahaan akan melakukan efisiensi, mengevaluasi strategi, dan fokus pada perbaikan internal. Namun, Bank Jakarta justru memilih jalan sebaliknya: berpesta pora seolah-olah tidak ada masalah.
Masalah Layanan yang Tak Kunjung Usai
Kritik Justin tidak berhenti pada soal keuangan semata. Ia juga menyoroti buruknya kualitas layanan Bank Jakarta yang sudah sangat meresahkan nasabah. Tahun lalu, sistem perbankan bank ini sempat mengalami gangguan parah di momen yang sangat krusial: saat warga Jakarta bersiap merayakan Lebaran dan berbelanja. "Setelah diusut, kemudian ada juga dugaan peretasan yang gagal dicegah oleh Bank Jakarta," tambahnya.
Yang lebih parah lagi, gangguan layanan ini bukan hanya insiden sekali waktu. Hingga saat ini pun, nasabah masih sering mengeluhkan sistem yang error, terutama di saat-saat genting seperti hari gajian. "Alih-alih merasa senang karena gajinya turun, para nasabah harus dibuat kesal oleh pelayanan Bank Jakarta yang buruk," kata Justin dengan nada kecewa. Ini adalah sebuah fakta pahit yang menunjukkan bahwa masalah fundamental bank ini bukan hanya soal penurunan laba, tetapi juga soal kepercayaan publik yang terus terkikis.
Analisis Unik: Budaya Korporasi yang Tumbang?
Dari sudut pandang seorang pengamat bisnis, fenomena ini bisa dilihat sebagai gejala corporate culture yang tidak sehat. Ketika manajemen memutuskan untuk menggelar acara mewah di tengah krisis, ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, mungkin ada miskomunikasi yang parah antara level manajemen puncak dengan kondisi nyata di lapangan. Kedua, bisa jadi ini adalah bentuk tone deafness—ketidakmampuan untuk membaca situasi dan perasaan publik. Ketiga, dan yang paling mengkhawatirkan, bisa jadi ini adalah upaya untuk menutupi masalah besar dengan kemewahan semu.
Menurut data yang saya kumpulkan dari berbagai sumber, biaya untuk mengadakan acara seperti ini di JICC dengan artis papan atas bisa mencapai miliaran rupiah. Bandingkan dengan laba bersih tahun 2025 yang hanya Rp330 miliar. Angka tersebut setara dengan sekitar 0,3% dari total laba tahun tersebut. Meskipun secara persentase terlihat kecil, namun esensinya bukanlah soal besaran uang, melainkan soal prioritas dan pesan yang ingin disampaikan kepada nasabah dan publik.
Bayangkan jika dana tersebut dialokasikan untuk memperbaiki sistem IT yang rentan error, atau untuk memberikan kompensasi kepada nasabah yang dirugikan akibat gangguan layanan. Atau bahkan untuk meningkatkan kualitas layanan di kantor-kantor cabang. Tentu efeknya akan jauh lebih positif daripada sekadar pesta yang hanya dinikmati oleh segelintir karyawan dan menghadirkan artis papan atas.
Apa yang Harus Dilakukan Bank Jakarta?
Justin Adrian dengan tegas menyarankan agar Bank Jakarta segera berbenah diri, bukannya berpesta pora atas prestasi yang rendah. "Harusnya, Bank Jakarta berbenah diri, bukannya berpesta-pora atas prestasi rendah. Ada target-target yang perlu dikejar, perbaikan-perbaikan sistem yang dilakukan, dan kepercayaan nasabah yang dipulihkan kembali," ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa uang yang dihamburkan untuk acara mewah seharusnya digunakan untuk perbaikan internal yang lebih mendesak. "Apalagi, kini uangnya juga terbatas karena pendapatan Bank Jakarta yang menurun. Ini sangat mengecewakan sekaligus memalukan!" tutupnya. Kritik ini bukan hanya berasal dari seorang politisi, melainkan juga dari suara hati masyarakat yang merasa dirugikan oleh kinerja bank milik mereka sendiri.
Penutup: Sebuah Refleksi untuk Kita Semua
Pada akhirnya, kasus Bank Jakarta ini menjadi sebuah cermin bagi kita semua, terutama bagi para pemimpin perusahaan dan institusi publik. Di era transparansi dan keterbukaan seperti sekarang, setiap keputusan akan menjadi konsumsi publik. Masyarakat tidak lagi mudah dibodohi oleh gemerlap acara atau kemewahan semu. Yang mereka butuhkan adalah kinerja nyata, layanan yang prima, dan kepercayaan yang terjaga.
Langkah Bank Jakarta untuk menggelar acara mewah di tengah laba yang merosot dan layanan yang buruk bukan hanya sebuah kesalahan manajemen, tetapi juga sebuah penghinaan terhadap akal sehat. Mari kita renungkan bersama: Apakah kita sebagai pemimpin atau pengambil keputusan sudah benar-benar peka terhadap kondisi yang ada? Ataukah kita justru terjebak dalam zona nyaman dan tone deafness yang pada akhirnya akan merugikan semua pihak? Sudah saatnya kita semua belajar dari paradoks Bank Jakarta: bahwa pesta boleh saja diadakan, tetapi pastikan pondasi sudah kokoh dan rumah tidak sedang terbakar.